Rabu, 01 Oktober 2014

Errol Hulse: Etika Kaum Puritan: Pengasuhan Anak

"Etika kaum Puritan tentang mengasuh anak adalah melatih anak-anak dengan cara yang harus mereka jalani, memelihara tubuh dan jiwa mereka secara bersama-sama, dan mendidik mereka cara hidup yang sederhana, saleh, dewasa, dan berguna dalam masyarakat. Cara hidup keluarga Puritan didasarkan atas keteraturan, kesopanan, dan ibadah rumah tangga (ibadah keluarga). Kehendak yang baik, kesabaran, kemantapan dalam bertindak dan sikap yang membangun dianggap sebagai kebajikan mendasar dalam keluarga".

(dari buku "Darah dan Api Kaum Puritan [Jakarta: Delima])

Errol Hulse: Etika Kaum Puritan: Perkawinan

"Etika kaum Puritan tentang perkawinan ialah tidak mencari teman hidup yang dicintai secara emosional saat ini saja, tetapi seseorang yang dapat terus dicintai sebagai teman terbaik sepanjang hidup dan kemudian meminta pertolongan Tuhan untuk mewujudkannya".

(dari buku "Darah dan Api Kaum Puritan" [Jakarta: Delima])

Selasa, 30 September 2014

Kalimat Penting: Rahasia Pengampunan

"Mengampuni berarti memberikan kasih walau tak ada alasan untuk melakukannya".

Mat 5:7: "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan."

[Maksudnya, orang yang mengampuni menerima orang yang diampuni, membatalkan tuntutan, melepaskan hak untuk membalas dendam dan mengasihinya, meski tidak ada alasan apapun dari orang itu. Alasannya adalah karena kita sudah lebih dulu mengalami kasih dan pengampunan Allah].

(dari buku "Kisah-Kisah Rohani Pembangkit Semangat Untuk Wanita" [Batam: Gospel Press])

Kalimat Penting: Jagalah Relasi Dengan Orang!

"Jembatan yang Anda bakar sekarang mungkin jembatan yang kelak harus Anda seberangi".

Rom 12:18: "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!"

[Maksudnya, kalau kita merusak relasi dengan orang lain sekarang, mungkin suatu hari nanti, orang yang sudah kita tolak itu justru merupakan orang yang sangat kita perlukan untuk suatu hal. Orang yang merusak relasi, mempersulit diri sendiri. Memelihara relasi merupakan sikap rendah hati mengakui bahwa kita tidak bisa hidup sendiri dan perlu orang lain. Karena itu, jagalah selalu relasi dengan orang lain]

(dari "Kisah-Kisah Rohani Pembangkit Semangat Untuk Wanita" [Batam: Gospel Press])

Senin, 29 September 2014

Pernyataan Berlin: Proklamasi Injil

"Memproklamasikan Injil. Penginjilan adalah proklamasi Injil tentang Kristus yang disalibkan dan bangkit, satu-satunya Penebus manusia, menurut Kitab Suci, dengan tujuan mengajak orang berdosa yang tersesat dan ada dalam penghukuman agar menaruh kepercayaan kepada Allah dengan menerima Kristus sebagai Juruselamat melalui kuasa Roh Kudus dan melayani Kristus sebagai Tuhan dalam tiap panggilan hidup dan dalam persekutuan Gereja-Nya, sambil menantikan hari kedatangan-Nya dalam kemuliaan".

Pernyataan Berlin, Tahun 1966

(dari buku J.I Packer, Thomas Oden, "Satu Iman" [Jakarta: Gunung Mulia])

Deklarasi Amsterdam: Panggilan Bersaksi

"Semua orang Kristen dipanggil untuk melakukan bagian mereka untuk memenuhi Amanat Agung, tetapi sebagian orang percaya mempunyai panggilan khusus dan karunia khusus untuk mengomunikasikan Kristus dan memimpin orang lain kepada Dia. Orang ini kami sebut sebagai penginjil, sebagaimana juga dikatakan oleh Perjanjian Baru".

Deklarasi Amsterdam Tahun 2000.

(dari buku J.I Packer, Thomas Oden, "Satu Iman" [Jakarta: Gunung Mulia])

Minggu, 28 September 2014

Helmut Thielicke: Mengampuni Orang Lain

Urusan pengampunan ini sama sekali bukanlah soal mudah... Kita berkata, "baiklah, kalau orang itu menyesal dan mohon maaf pada saya, saya akan memaafkannya, lalu saya akan mengalah". Kita menjadikan pengampunan sebagai hukum timbal balik. Dan ini tidak pernah berhasil. Karena kami berdua bersama-sama berkata dalam hati, "Orang itu yang harus mengambil langkah pertama". Dan kemudian saya mengamati seperti elang untuk melihat apakah orang itu akan memberi tanda pada saya dengan matanya, atau apakah saya bisa mendeteksi semacam petunjuk yang tersirat yang memperlihatkan ia menyesal. Saya selalu siap memaafkan... tapi saya tidak pernah memaafkan. Saya sangat terlalu adil...

(dari buku Philip Yancey, "Keajaiban Kasih Karunia" [Batam: Gospel Press])