Rabu, 01 April 2015

John Piper: Kasih Kristus Yang Tak Terselami

Banyak orang saat ini mengatakan bahwa Yesus tidak berperasaan dan tidak mengasihi karena membiarkan Lazarus mati. Dan mereka akan menambahkan kritik ini: yaitu bahwa Ia arogan dan menyombongkan diri karena Ia termotivasi oleh hasrat untuk mempertontonkan kemuliaan-Nya sendiri.

Hal ini memang memperlihatkan bahwa buat kebanyakan orang, nilai kehidupan yang bebas rasa sakit itu jauh melampaui kemuliaan Allah. Bagi kebanyakan orang, kasih adalah peletakan nilai kemanusiaan dan kesejahteraan manusia pada tingkat tertinggi. Dengan demikian tidaklah masuk akal bagi mereka bila dikatakan bahwa tindakan Yesus adalah perilaku mengasihi.

Namun marilah kita mempelajari dari Yesus apakah itu kasih dan apakah kesejahteraan kita yang sesungguhnya. Kasih adalah melakukan apa saja yang Anda butuhkan untuk menolong orang melihat dan mencecap kemuliaan Allah dalam Kristus untuk selama-lamanya. Kasih menempatkan Allah di pusat. Meniru Yesus dalam hal ini tidak berarti mengasihi dengan mempertontonkan kemuliaan kita. Meniru berarti kita memperlihatkan kemuliaan-Nya.

Yesus memperlihatkan kemuliaan diri-Nya dan Bapa-Nya. Kita harus memuliakan Yesus dan Bapa-Nya. Yesus adalah Pribadi di alam semesta ini yang untuk-Nya ekaltasi diri merupakan kebajikan tertinggi dan tindakan kasih terbesar. Kita bukanlah Allah. Karena itu, bukanlah kasih namanya jika kita mengarahkan orang lain kepada diri kita sebagai landasan bagi sukacita mereka. Yang seperti itu adalah sebuah gangguan yang tidak berdasarkan kasih. Kasih berarti menolong orang lain melihat dan mengecap Kristus untuk selama-lamanya.

(dari buku "God is the Gospel" [Malang: Literatur SAAT])

Kamis, 19 Maret 2015

Jangan Mengeluh Yah...

Mari kita jangan mengeluh untuk apapun.

Mengeluh berarti...

Kita tidak percaya pemeliharaan Allah dalam hidup kita...

Kita tidak bersyukur untuk berkat-berkat Allah yang sudah kita terima...

Kita hanya mau menerima yang enak tetapi tidak mau menerima yang sulit...

Kita tidak mau belajar sabar dalam kesulitan...

Kita tidak menghargai kebaikan-kebaikan Allah yang jauh lebih banyak dari kesulitan kita...

Mari kita belajar bersyukur dalam segala keadaan...

Senin, 16 Maret 2015

Pdt. Stephen Tong: Pengantar Teologi Kontemporer

Pada zaman Pencerahan di Eropa, telah timbul aliran empiriksisme di Inggris dan aliran rasionalisme di Prancis, Belanda dan Jerman. Kedua aliran itu sangat memukul kepercayaan-kepercayaan agama tradisional pada waktu itu. Oleh karena itu, kepercayaan agama sangat bergantung kepada wahyu Allah, sedangkan Pencerahan menganggap manusia sudah mencapai kedewasaan untuk mengethaui segala bidang pengetahuan.

Dengan kata lain, mereka berpendapat bahwa tanpa penyataan Allah, yaitu hanya melalui rasio, sudah cukup bagi manusia untuk dapat menjawab segala persoalan dan menemukan segala kebenaran. Apabila pernyataan itu benar, maka suatu pertanyaan yang besar adalah "di manakah tempatnya kekristenan?" Berkenaan dengan hal ini, maka ada tokoh-tokoh pemikir yang berusaha menolong atau menyelamatkan kekristenan dari kesulitan-kesulitan semacam itu.

Kant menggolongkan kekristenan dan nilai kekristenan di bawah wilayah moral, sedangkan Schleiermacher menggolongkan kekristenan di bawah wilayah perasaan dan Albrect Ritschol menempatkan kekristenan di bawah nilai. Persamaan dari tokoh-tokoh itu, termasuk Adolf von Harnack dan Hermann, ialah meniadakan kebutuhan wahyu sebagai sumber dasar dan standar untuk mengenal Allah.

Itulah bahaya yang mengancam teologi pada abad ke 19, namun orang yang sungguh setia kepada Tuhan mengetahui bahwa kemungkinan untuk mengenal pengetahuan dalam dunia alam semesta telah diberikan oleh Tuhan pada waktu Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, di mana salah satu aspek yang diberikan adalah ialah sifat rasio, sehingga manusia dapat menemukan pengetahuan alam. Tetapi dalam hal pengenalan terhadap Allah, manusia hanya diberi kemungkinan untuk mengetahui keberadaan-Nya, sedangkan untuk mengetahui rencana Allah, keselamatan Allah, manusia tidak dapat mengetahuinya selain melalui pernyataan Allah.

Dengan demikian pengenalan terhadap Allah merupakan suatu ilmu khusus yang melampaui kemungkinan manusia untuk mengenal Allah, di mana untuk pengenalan terhadap Allah membutuhkan suatu keharusan yaitu Allah yang menyatakan diri kepada manusia.

Pada abad ke 20, berdasarkan pemikiran di atas, Karl Barth dan Brunner menganggap penyataan adalah kunci untuk mengenal Allah. Penyataan ini sangat serupa dengan teologi Reformasi. Teologi perlu memutar arah dan membanting stir sehingga bisa mendapatkan suatu dasar yang lebih kuat lagi. Namun konsep Allah dan konsep penyataan dari Karl Barth sangat terpengaruh oleh Soren Aaby Kierkegaard dari Denmark. Oleh karena itu, dalam usaha untuk menyelamatkan teologi keluar dari kebahayaan liberalisme, mereka tetap tidak berdiri di atas dasar yang kuat, yang pernah diberikan oleh Martin Luther dan Calvin, sehingga usaha untuk kembali ke Alkitab belum tuntas.

Sejak Karl Barth, kita dapat melihat aliran-aliran lain yang menjadi pokok aliran dalam dunia teologi, yang makin kacau dan makin menyimpang dari otoritas Alkitab. Meskipun setiap aliran teologi itu mempunyai sumbangsih dan kreatifitas tertentu, namun penyimpangan dari Alkitab dapat kita lihat dengan jelas. Maka sebagai orang Kristen yang berkecimpung dalam dunia teologi, atau orang Kristen awam yang tertarik kepada doktrin, seharusnya berjaga-jaga dan mendapat pedoman lebih lanjut untuk dapat menganalisa dan dapat membeda-bedakan ajaran mana yang setia dan ajaran mana yang menyimpang.

(dari buku Harvey Conn, "Teologi Kontemporer" [Malang: Literatur SAAT])