Kamis, 05 Maret 2015

R.C Sproul: Salib Kristus: Murka Paling Mengerikan

Pernyataan murka dan keadilan Allah yang paling kasar terlihat di kayu salib. Jika seseorang pernah mempunyai kesempatan untuk mengeluh tentang ketidakadilan, maka orang itu adalah Yesus. Ia adalah satu-satunya manusia yang tidak berdosa yang pernah dihukum oleh Allah. Jika kita terguncang tentang murka Allah, biarlah kita terguncang di salib. Di sinilah keheranan kita seharusnya terfokus. Jika kita mempunyai perkara kebiadaban moral, biarlah itu terarah ke Golgota.

Salib adalah contoh murka Allah yang paling mengerikan dan sekaligus paling indah. Salib adalah tindakan paling yang paling adil dan paling penuh kemurahan dalam sejarah. Allah akan lebih dari sekedar tidak adil, Ia akan bersikap kejam karena menghukum Yesus jika Yesus tidak tidak terlebih dahulu bersedia menanggung dosa dunia. Begitu Kristus telah melakukan itu, begitu Ia bersuka rela menjadi Anak Domba Allah, menanggung dosa kita, sehingga Ia menjadi hal yang paling fantastis dan paling kotor di planet ini. Dengan beban dosa terkonsentrasi yang dipikul-Nya, Ia menjadi benar-benar menjijikan bagi Bapa.

Allah mencurahkan murka-Nya atas hal yang kotor ini. Allah membuat Kristus menjadi terkutuk karena dosa yang dipikul-Nya. Di sinilah, keadilan Allah yang kudus termanifestasikan secara sempurna. Namun itu dilakukan bagi kita. Ia mengambil apa yang dituntut oleh keadilan dari kita. Aspek "bagi kita" dari salib inilah yang menunjukkan keagungan anugerah-Nya. Pada waktu yang sama Allah menunjukkan keadilan dan anugerah, murka dan kemurahan. Hal ini terlalu mengherankan untuk bisa dipahami.

(dari buku "Kekudusan Allah" [Batam: Gospel Press])

Kamis, 12 Februari 2015

Matthew Henry: Tugas Manusia Di Dunia

[Kejadian 2:15: "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu."]

Bagaimana Allah menentukan usaha dan pekerjaan manusia itu. Allah menempatkan Adam di situ, bukan seperti menempatkan Lewiatan di dalam air supaya bisa bermain di situ, melainkan supaya menghiasi taman itu dan mengurusnya. Firdaus itu sendiri bukanlah tempat supaya ia bisa bebas dari pekerjaan. Perhatikanlah di sini,

Pertama, tidak seorangpun dari kita yang dihadirkan di dunia ini untuk bermalas-malasan. Dia menciptakan kita lengkap dengan jiwa dan tubuh, telah memberi kita sesuatu untuk dikerjakan. Dan Dia yang memberi kita bumi ini untuk ditempati telah menyediakan sesuatu bagi kita untuk dikerjakan. Jika keturunan bangsawan, harta berlimpah, daerah kekuasaan yang luas, ketulusan sempeurna, kecondongan untuk bersaat teduh, atau keluarga kecil mampu memberi manusia izin untuk bersenang-senang, Adam tidak akan diberi tugas untuk bekerja. Namun, Dia yang telah menjadikan kita juga telah memberi kita tugas untuk melayani Dia dan angkatan kita, serta mengerjakan keselamatan kita. Jika kita melalaikan tugas, kita tidak layak menerima keberadaan kita serta pemeliharaan-Nya.

Kedua, pekerjaan dunia akan berhasil dengan baik apabila dikerjakan dengan ketulusan dan hidup bersekutu dengan Allah. Sementara berada di dunia ini, anak-anak Tuhan serta pewaris sorga mempunyai sesuatu untuk dikerjakan dengean bumi ini, yang patut menerima waktu dan pikiran mereka ini. Jika mereka melakukannya sambil mengingat Allah, mereka juga beribadah kepada-Nya sama seperti ketika mereka sedang berlutut.

Ketiga, panggilan seorang petani merupakan panggilan terhormat yang berlaku sejak zaman dahulu, yang dibutuhkan bahkan di taman Firdaus. Taman Eden yang meskipun tidak perlu dibersihkan dari gulma atau rumput liar (sebab ketika itu tanaman berduri belum menjadi gangguan) tetap saja harus ditata dan dipelihara. Alam, bahkan dalam keadaaan paling awalsekalipun, menyisakan ruang untuk meningkatkan keterampilan dan ketekunan. Ini adalah panggilan yang pantas dalam keadaan tanpa dosa, untuk membuat pembekalan bagi kehidupan dan bukan untuk hawa nafsu, serta memberi manusai kesempatan untuk mengagumi Sang Pencipta sambil mengakui pemeliharaan-Nya. Sementara tangannya sibuk mengurus pepohonan, hatinya bisa tetap bersama Allah. 

Keempat, terdapat sukacita sejati dalam panggilan untuk melaksanakan tugas yang dberikan Allah kepada kita. Tugas Adam sama sekali bukan menjadi beban melainkan justru menambah kesenangan di taman firdaus. Ia tidak akan bahagia seandainya bermalas-malasan. Hukum ini masih saja berlaku: orang yang tidak mau bekerja tidak berhak untuk makan (2 Tes. 3:10; Ams. 27:23).

(Tafsiran Kitab Kejadian [Surabaya: Momentum])