Sabtu, 25 Oktober 2014

ESV Study Bible: Mazmur 85:5-8

[Mazmur 85:5-8]
5) Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami.

6) Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun?

7) Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau?

8) Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!

Pulihkan dan ampni kami sekali lagi. Bagian selanjutnya merujuk kepada kebajikan Allah yang telah Ia nyatakan, sekarang meminta kepada Allah untuk memulihkan mereka sekali lagi, misalnya dalam kalimat "tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami". Sebab bagi Allah "untuk selamanya Engkau murka atas kami" seolah bertentangan dengan karakter Allah yang telah dinyatakan; karena itu umat-Nya berdoa meminta Allah menunjukkan kasih setia-Nya (Kel. 34:6) dan memberikan keselamatan. Keselamatan yang khas adalah bagi Allah ketka Ia memalingkan kemarahan-Nya, mengampuni umat-Nya sekaligus dan membangunkan mereka yakni memperbaharui komitmen murni mereka bagi perjanjian (kovenan) dngan Allah dan membuat tanah mereka berbuah.

(diterjemahkan secara bebas dari English Standard Version Study Bible [Wheaton: Crossway])

ESV Study Bible: Mazmur 85:2-4

[Mazmur 85:2-4]
2) Engkau telah berkenan kepada tanah-Mu, ya TUHAN, telah memulihkan keadaan Yakub.

3) Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka. Sela

4) Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan murka-Mu yang menyala-nyala.

Tuhan, satu kali Engkau pernah menunjukan perkenanan-Mu dan mengampuni kami. Kata kerja dalam bagian ini semuanya menggunakan bentuk lampau, sebagai tindkaan melihat ke belakang kepada apa yang Allah kerjakan bagi umat-Nya sebelumnya. Ia berkenan kepada tanah mereka misalnya dengan menumbuhkan banyak tanaman untuk membuat umat-Nya bertahan hidup.

Tuhan juga memulihkan keadaan Yakub [Israel] setelah Ia mendisiplinkan ketidaksetiaan mereka; Ia mengampuni kesalahan mereka, menutupi segala dosa mereka, mundur dari semua murka-Nya dan berpaling dari kemarahan-Nya yang bernyala-nyala.
...
Ekspresi "berpaling dari murka yang bernyala-nyala (bandingkan Kel. 32:12; 34:6; Yos. 7:26) mengimplikasikan bahwa Allah mengampuni umat-Nya setelah mereka bertobat dari ketidaksetiaan dan kemurtadan yang serius. Allah telah melakukan hal ini pada masa lampau bagi umat-Nya, karena kebaikan-Nya tak terbatas.

(diterjemahkan secara bebas dari English Standard Version Study Bible [Wheaton: Crossway])

ESV Study Bible: Mazmur 85

Mazmur ini merupakan ratapan komunitas pada waktu Allah menunjukan kemarahan-Nya atas ketidaksetiaan umat-Nya. Kemarahan ini ditunjukkan melalui menahan ladang untuk berbuah (ayat 2, 13). Orang-orang yang menyanyikan mazmur ini sedang mencari pengampunan bagi seluruh umat (kata "kami"), meminta Tuhan untuk menunjukan kasih yang teguh dan setia yang Ia proklamasikan dalam Keluaran 34:6. Dan karena Allah adalah benar-adil (ayat 11-12, 14) yakni tepercaya dalam hal janji-janji-Nya, mazmur ini ditutup dengan keyakinan.

Keluaran 34:6-7 menyediakan latar belakang bagi mazmur ini, khususnya dalam istilah "kasih setia dan kesetiaan" (ayat 8, 11, 12) dan "mengampuni kesalahan" (ayat 3). Allah menjelaskan nama-Nya kepada Musa dengan menekankan kebajikan yang disandari oleh umat-Nya. Banyak gereja menggunakan mazmur ini pada saat Natal, masa yang paling utama ketika Allah berkenan kepada umat-Nya dan berbicara damai kepada mereka.

(diterjemahkan secara bebas dari English Standard Version Study Bible [Wheaton: Crossway])

Kamis, 23 Oktober 2014

Kalimat Penting: Matthew Henry: Kehancuran Orang Muda

"Kehancuran orang muda dapat disebabkan oleh hidup bebas tanpa aturan sama sekali atau karena memilih pedoman yang salah".

(Dari "Tafsiran Mazmur 100-150" [Surabaya: Momentum])

Kalimat Penting: Matthew Henry: Pertanyaan Orang Muda

"Hanya sedikit orang muda yang mau bertanya kepada diri sendiri, dengan cara bagaimana mereka dapat memulihkan dan menjaga kesucian mereka".

Mazmur 119:9: "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu".

(Dari "Tafsiran Mazmur 100-150" [Surabaya: Momentum])

Rabu, 22 Oktober 2014

Kepemimpinan Hamba (2)

Dalam konteks sebagaimana dikemukakan di atas, kita kemudian mendengarkan Verbum Christi (firman Kristus) soal kepemimpinan hamba. Model kepemimpinan bangsa-bangsa adalah model dominatif dan penggunaan kuasa dan posisi untuk mencapai efisiensi dan efektifitasnya. Dalam klasifikasi dikotomis, Tuhan Yesus jelas membuat antitesis yang tajam. Kepemimpinan yang dikehendaki-Nya bukanlah kepemimpinan tangan besi penuh kekerasan melainkan kepemimpinan hamba.

James Edwards mengambarkan apa yang dibicarakan Kristus ini sebagai berikut, "In a decisive reversal of values, Jesus speaks of greatness in service rather than greatness of power, prestige and authority..." [Dalam suatu pembalikan nilai yang tegas, Yesus lebih membicarakan kebesaran dalam pelayanan ketimbang kebesaran dalam kuasa, kebanggaan dan otoritas]. Edwards juga menggariskan penekanan Verbum Christi ini, yakni bukan pada kuasa dan kebebasan tapi pada pelayanan atau diakonia.

(dari Jurnal Verbum Christi, Vol. 1, No. 2, Oktober 2014)

Kepemimpinan Hamba (1)

Dalam Markus 10:43, Tuhan Yesus berkata, "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu". Konteks dari teks ini adalah permintaan Yohanes dan Yakobus untuk mendapat posisi di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus, ketika Ia berada dalam kemuliaan (ayat 37). William Lane menduga bahwa kedua murid yang dekat dengan Kristus itu beranggapan bahwa Kristus sebagai "eschatological Lord" [Tuhan akhir zaman] akan pergi ke Yerusalem untuk memulihkan kemuliaan dari tahta Daud yang telah hancur. Dengan kata lain, Yohanes dan Yakobus mengajukan permintaan dalam presaposisi "royal Messiahship" [kemesiasan politis].

Permintaan kedua anak Zebedeus akan kemuliaan setelah Yesus menyampaikan prediksi penyaliban-Nya (ayat 33-34) menandakan bahwa mereka tidak mengerti makna penderitaan Kristus. Permintaan mereka juga memicu kemarahan sepuluh murid lain. Tentu, kesepuluh murid lain, termasuk di dalamnya Yudas Iskariot, merasa bahwa permintaan Yohanes dan Yakobus tidak mewakili aspirasi mereka. Kontestasi penuh ambisi sedang berlangsung. Orang-orang yang angkuh biasanya tidak menghendaki terdapat pribadi lain yang lebih angkuh dari mereka.

bersambung...

(dari Jurnal Verbum Christi Vol. 1, No. 2, Oktober 2014)