Jumat, 25 Juli 2014

O. Hallesby: Ketenangan (2)

Ia mengalami kebenaran ucapan Yesus bahwa orang yang lemah lembut akan diberkati. Berlawanan dengan kebiasaan, ia justru mengalami sukacita dalam membiarkan dirinya direndahkan orang lain.

Yang menjadi sumber sukacita bagi dia adalah persekutuannya dengan Tuhan. Ia tidak pernah merasakan begitu menyatu dengan Tuhan seperti ketika ia sedang mengalami kehinaan. Ia mengangkat salibnya yang kecil dan berjalan mengikuti jejak Tuhan Yesus dengan senang hati, aman dan penuh sukacita, sambil merasakan bahwa salibnya telah menyatu dengan Kristus, dan bahwa memikul salib memberi sukacita dan kekuatan dalam kehidupan Kristen, yang sebelumnya tidak dikenalnya dalam menanggung beban hidup sehari-hari.

Pada saat yang sama, membawa segala sesuatu ke bawah penilaian Allah adalah satu sukacita bagi dia. Bila orang lain salah paham terhadap dia dan mengabaikan dia, ia akan kembali menghadap Allah. Dan apabila ia telah menempatkan dirinya serta semua maksud hatinya di hadapan Allah, ia akan mengalami suatu perasaan aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, teristimewa dalam waktu di mana perhatian dan kebaikan hati orang terhadapnya hampir saja menghalangi dia untuk mendapatkan perkenanan Allah di dalam segala hal.

(dari buku "Di Bawah Naungan Sayap-Nya" [Jakarta: Gunung Mulia])

O. Hallesby: Ketenangan (1)

Cinta akan kehormatan membuat kita gelisah, letih lesu. Itulah yang membuat kehidupan orang yang selalu berjuang demi kehormatan itu menjadi begitu menyedihkan.

Ia selalu kuatir kalau-kalau ia tidak akan dipandang atau diperhatikan, kalau-kalau ia gagal membuat hal yang mengesankan, gagal meraih keberhasilan dan di atas segalanya gagal maju. Kegelisahan yang sedikit banyak ia sadari itu memenuhi jiwanya sepanjang waktu.

Orang yang memiliki keberanian untuk direndahkan dan tidak diperhatikan, bebas dari kekuatiran yang menggerogoti tersebut. Ia benar-benar mengalami ketenangan yang telah Yesus janjikan bagi orang yang lemah lembut. Ia menemukan ketenangan di dalam kenyataan bahwa orang tidak menganggap dia lebih tinggi dari apa adanya.

Biasanya orang memang suka salah anggap. Ia menyadarinya karena ia telah memiliki keberanian untuk memandang dirinya di bawah terang yang benar. Ia sering merasa sedih bila menyadari bahwa orang telah menaksir dia lebih tinggi sehingga mau berharap lebih dari dari dia.

Karena itu, ia akan mengalami ketenangan dan sukacita yang luar biasa bila orang tidak menganggap dia lebih dari apa adanya, dan dengan demikian ia juga boleh segera menyadari akan kenyataan bahwa ia memiliki kesanggupan yang lebih dari apa yang diduga orang.

bersambung...

(dari buku "Di Bawah Naungan Sayap-Nya" [Jakarta: Gunung Mulia])

Kamis, 24 Juli 2014

Harry Blamires: Orang Kristen & Demokrasi (2)

Prinsip demokrasi membuktikan bahwa setiap orang bisa menyalahgunakan kekuasaan sehingga kekuasaan tidak boleh diletakkan di dalam tangan siapa pun tanpa dibatasi. Dasar bagi prinsip demokrasi adalah doktrin Kristen tentang dosa asal. Kita semua bisa rusak, dan menjalankan kekuasaan atau otoritas atas orang lain memberikan kita kemungkinan untuk rusak dan menyalahgunakannya. Semakin sedikit kekuasaan permanen ada di tangan seseorang, semakin baik. Jadi, orang Kristen menyambut demokrasi bukan karena semua orang diberkati dengan penilaian yang baik; orang Kristen menyambut demokrasi karena mereka tahu bahwa semua orang bisa jatuh ke dalam pencobaan dan penyalahgunaan kekuasaan.

(dari buku "Pemikiran Pasca-Kristen" [Surabaya: Momentum])

Harry Blamires: Orang Kristen & Demokrasi (1)

Dengan kata lain demokrasi diperlukan karena adanya sesuatu pada demokrasi itu yang dapat menjaga kita. "Semua kekuasaan akan disalahgunakan, dan kekuasaan yang absolut akan disalahgunakan secara absolut". Praktik demokrasi melindungi kita dari penyalahgunaan kekuasaan dan tirani, karena demokrasi memampukan kita untuk menyingkirkan pemerintah yang akan menyalahgunakan kekuasaan jika ia tidak dibatasi. Jadi, prinsip demokrasi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa setiap orang begitu kompeten sehingga opininya harus harus ditindaklanjuti. 

bersambung...

(dari buku "Pemikiran Pasca-Kristen" [Surabaya: Momentum])

Rabu, 23 Juli 2014

J. C Ryle: Apakah Dosa Isteri Lot? (2)

Ketiga, menoleh ke belakang mengungkapkan ketidakpercayaan yang angkuh. Rupanya isteri Lot meragukan bahwa Allah akan melakukan apa yang sudah Ia katakan, yaitu menghancurkan Sodom. "Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah" (Ibr. 11:6). Bila ada orang yang berpikir bahwa ia tahu lebih baik dari pada Allah, maka jiwa mereka berada dalam bahaya besar. Jika kita tidak dapat memahami alasan Allah mengizinkan hal-hal tertentu terjadi dalam hidup kita, maka kewajiban kita ialah berdiam diri dan percaya.

Keempat, menoleh ke belakang mengungkapkan kecintaan rahasia terhadap materialisme dunia ini. Ia tidak bisa meninggalkan rumahnya tanpa melihat kembali walau hanya sekilas. Keinginan-keinginan hatinya berada di Sodom, meskipun tubuhnya sekarang berada di luar kota itu. Matanya tertuju ke tempat di mana hartanya berada, seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara. "Persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah" (Yak. 4:4). "Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu" (1 Yoh. 2:15).

(dari buku "Aspek-Aspek Kekudusan" [Surabaya: Momentum])

J. C Ryle: Apakah Dosa Isteri Lot? (1)

Kita membaca bahwa "isteri Lot... menoleh kebelakang, lalu menjadi tiang garam" (Kej. 19:26). Apakah menoleh kebelakang kelihatan sebagai dosa kecil? Begitulah yang dirasakan oleh sebagian orang. Tetapi ada banyak hal yang tersimpan dalam pandangan mata isteri Lot dari pada yang kita kira.

Pertama, menoleh ke belakang mengungkapkan karakternya yang sesungguhnya. Hal-hal kecil seringkali memperlihatkan dengan lebih baik keadaan hati kita dari pada hal-hal besar. Gejala-gejala yang kecil bisa menjadi tanda adanya penyakit yang berat. Satu pandangan mata bisa memperlihatkan keadaan hati seseorang - lihat Matius 5:28.

Kedua, menoleh ke belakang mengungkapkan ketidaktaatannya. Peringatan malaikat sudah jelas, "janganlah menoleh ke belakang!" Istri Lot tidak menurut. Bila Allah berbicara dengan jelas lewat firman-Nya di dalam Kitab Suci, maka kewajiban kita pun menjadi jelas.

bersambung...

(dari buku "Aspek-Aspek Kekudusan" [Surabaya: Momentum])

Selasa, 22 Juli 2014

Cornelius van Til: Alkitab & Kedaulatan Allah

Doktrin pengilhaman Alkitab yang infallible [tidak bisa bersalah] tercakup di dalam doktrin kedaulatan Ilahi. Allah tidak mungkin berdaulat di dalam kekuasaan-Nya atas umat manusia yang rasional jika Ia tidak berdaulat di dalam wahyu-Nya mengenai diri-Nya sendiri kepada umat manusia tersebut. Jika Allah berdaulat di dalam keberadaan, maka sudah pasti Ia juga Ia berdaulat di dalam bidang pengetahuan.

(teks dari John Frame, "Cornelius van Til" [Surabaya: Momentum])