Jumat, 18 April 2014

James M. Boice: Merdeka Untuk Melayani (2)

Namun ini adala kemerdekaan yang khusus. Kita tidak dibebaskan untuk melakukan apapun yang kita inginkan, untuk berdosa tanpa mendapat hukuman, atau sekali lagi jatuh kembali ke dalam perbudakan pemberontakan dan ketidaksetiaan. Kita dibebaskan untuk melayani Allah. Kita dimerdekakan untuk menghendaki yang baik.

Kita dibebaskan agar kita dapat menaati dan mengasihi Yesus. Seperti yang Paulus tulis: "Kamu bukan milik kamu sendiri. sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Kor. 6:19-20).

Penebusan adalah hal yang mulia. Memikirkan hal itu akan menghangatkan hati kita dan mengangkat kita dalam pujian kepada Dia yang memberikan diri-Nya sehingga kita dapat merdeka. Tetapi penebusan bukan hanya itu. Penebusan juga memanggil kita untuk membuat level komitmen kita setinggi mungkin. Sebagaimana Yesus memberi diri-Nya bagi kita, maka kita juga harus memberi diri kita kepada-Nya. Kita harus bersedia, bersungguh hati, dan memutuskan untuk melayani Dia. Ia mati bagi kita karena kasih-Nya yang besar. Kasih itu, sebuah kasih yang mengherankan, "menuntut jiwa saya, hidup saya dan saya seluruhnya".

(dari buku "Dasar-Dasar Iman Kristen" [Surabaya: Momentum])

James M. Boice: Merdeka Untuk Melayani (1)

Penebusan memiliki dua akibat. Pertama, penebusan berarti kita bebas. Kedengarannya berlawanan, dibeli oleh Yesus Kristus adalah dibebaskan - bebas dari kesalahan dan tirani hukum Taurat dan dari kuasa dosa. Paulus berbicara tentang kebebasan ini di puncak surat Galatia di mana ia menantang orang-orang kepada siapa ia menulis. "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan mau dikenakan kuk perhambaan" (Gal. 5:1).

bersambung...

(dari buku "Dasar-Dasar Iman Kristen" [Surabaya: Momentum])

Kamis, 17 April 2014

Agustinus dari Hippo: Makna "Sudah Selesai"

Bahwa Ia berkata: "Sudah selesai" lalu menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Hal itu memperlihatkan kuasa-Nya di tengah kematian-Nya sendiri. Kematian itu bukan tak terelakkan. Ia malah menunda-Nya sampai segala nubuat mengenai diri-Nya menjadi genap (sebab di dalam Mazmur masih dikatakan pula "dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam).

Dengan demikian diperlihatkan-Nya bahwa Ia berkuasa memberikan nyawa-Nya, seperti memang dinyatakannya sendiri. Ia menyerahkan nyawa-Nya dengan kerendahan hati, itulah yang dimaksudkan dengan "menundukkan kepala-Nya", sebagaimana Ia akan menerimanya kembali waktu bangkit dengan kepala tegak.

(dari buku "Bagai Terang di Hati" [Jakarta: Gunung Mulia])

Agustinus dari Hippo: Makna 3 Bahasa di Atas Salib Kristus

Bahwa tulisan itu ditulis dalam tiga bahasa, bahasa Ibrani, Yunani dan Latin. Hal ini menjelaskan bahwa Ia tidak hanya akan memerintah orang Yahudi [karena kata-katanya adalah "Inilah Dia Raja Orang Yahudi"] tetapi juga bangsa-bangsa. 
...
Bukan seolah hanya bahasa Yunani dan Latin yang dipakai oleh bangsa-bangsa tetapi karena bahasa-bahasa itulah yang paling penting. Bahasa Yunani adalah bahasa ilmu pengetahuan sedangkan bahasa Latin adalah bahasa para penguasa Romawi. 
...
Maka dalam ketiga bahasa itu dinyatakan bahwa seluruh dunia bangsa-bangsa harus tunduk kepada Kristus.

(dari buku "Bagai Terang di Hati" [Jakarta: Gunung Mulia])

Rabu, 16 April 2014

Jane Smith & Betty Carlson: Kematian G F Handel

Pada tahun 1759 tatkala musim oratorio dimulai pada bulan Maret, Handel mengumumkan serangkaian pertunjukan yang terdiri dari sepuluh konser. Komponis yang hampir buta ini mendirigeni semua konser itu, yang diakhiri dengan Messiah pada 6 April, tak lama sebelum hari Paskah. Ia membawakan pertunjukan terakhirnya ini hingga selesai tanpa menunjukkan rasa lelah, tetapi ia tahu bahwa waktu yang dimilikinya tidak lama.

Ia memberitahu beberapa temannya bahwa ia mempunyai satu keinginan yang masih tertinggal. "Aku ingin meninggal pada hari Jumat Agung", ujarnya, "dalam pengharapan untuk berbagian bersama Allah, Tuhan dan Juruselamatku yang baik, pada hari kebangkitan-Nya.
...
Tatkala pagi menjelang hari Jumat Agung, Handel mengucapkan selamat jalan kepada teman-temannya, lalu memberitahu pembantunya untuk tidak mengizinkan siapapun masuk karena seperti dikatakannya, "sekarang tugasku sudah selesai dengan dunia ini". Ia meninggal pada hari itu, pada tanggal 14 April 1759, dan dimakamkan di Poets Corner di Westminster Abbey. Bila mengingat GF Handel, dua ayat Kitab Suci terlintas dalam benak saya: "Tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali" (Ams. 24:16) dan "Sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku" (Mikha 7:8).

(dari buku "Karunia Musik". Pada Sabtu, 19 April ini, Aula Simfonia Jakarta akan mengadakan konser Paskah dengan mementaskan karya agung Handel, "Messiah" bagian II dan III dengan conductor Dr. Stephen Tong)

Jane Smith & Betty Carlson: Talenta G F Handel

George Frideric Handel (1685-1759) hanya berbicara sedikit tentang dirinya semasa hidupnya. Fakta pokok dari hidupnya adalah musiknya. Ia akan bahagia bila mengetahui bahwa musiknya terutama Messiah, membawa sukacita dan kesenangan bagi banyak orang. Namun ia akan terkejut mengetahui betapa sedikitnya karya-karyanya yang dikenal orang saat ini. Handel sangat jenius. Besarnya talenta yang ia dapat dari Allah dan membanjirnya musik agung yang ia ciptakan nyaris tidak terduga oleh generasi ini kecuali oleh para ahli musik.

(dari buku "Karunia Musik". Sabtu, 19 April ini Aula Simfonia Jakarta akan mementaskan karya agung Handel, "Messiah" bagian II dan III dengan conductor Dr. Stephen Tong). 



Selasa, 15 April 2014

John Murray: Salib Kristus: Kepastian Keadilan Allah

Akhirnya ada juga argumentasi dari kepastian keadilan Allah. Dosa merupakan kontradiksi terhadap Allah dan Ia harus bereaksi melawannya dengan ketetapan kudus-Nya. Hal ini sama dengan mengatakan bahwa dosa harus berhadapan dengan penghakiman Ilahi (band. Ul. 27:26; Nah. 1:2; Hab. 1:13; Rm 1:17; 3:21-26; Gal. 3:10, 13).

Dengan dasar-dasar seperti kekudusan hukum Allah yang tidak boleh dilanggar, ketetapan kesucian Allah yang tak boleh dicemarkan, dan tuntutan keadilan yang tak bisa direndahkan, maka kesimpulan mandatorial yang dihasilkan adalah bahwa bahwa keselamatan tanpa ekspiasi [penggantian] dan propisiasi [peneduhan murka Allah] adalah mustahil.

Prinsip inilah yang menjelaskan pengorbanan Tuhan yang mulia, kepedihan Getsemani, dan keharusan kayu yang terkutuk. Prinsip inilah yang mendasari kebenaran agung bahwa Allah itu benar dan Pembenar mereka yang percaya kepada Yesus. Karena di dalam karya Kristus ketetapan kesucian dan tuntutan keadilan dapat dipenuhi secara sempurna, maka Allah menetapkan Dia sebagai Pendamai untuk menyatakan kebenaran keadilan-Nya.

(dari buku "Penggenapan dan Penerapan Penebusan" [Surabaya: Momentum])