Sabtu, 01 November 2014

John Calvin: Otoritas Alkitab

[2Ti 3:16  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.]

[Paulus memuji Kitab Suci, pertama berdasarkan otoritasnya, dan kedua berdasarkan kegunaan yang timbul darinya. Untuk menjunjung tinggi otoritas Kitab Suci, ia menyatakannya sebagai diinspirasikan secara ilahi (divinitus inspiratam); karena jika demikian Kitab Suci tidak terbantahkan dan manusia harus menerimanya dengan hormat...
...
Maka siapapun yang ingin mengambil keuntungan dari Kitab Suci, biarlah ia lebih dahulu menetapkan sebagai pengertian yang tetap, pendiriannya ini - bahwa Hukum Taurat dan kitab para nabi bukanlah ajaran yang dihasilkan oleh kehendak manusia tetapi didiktekan (dictatam) oleh Roh Kudus...
...
Musa dan para nabi tidak mengucapkan dengan sembarangan apa yang kita miliki dari tangan mereka tetapi karena mereka berbicara oleh dorongan ilahi, mereka dengan yakin dan tanpa takut menyaksikan sebagaimana sesungguhnya halnya, bahwa mulut Tuhanlah yang berbicara...

Kita menghormati Kitab Suci sama seperti kita menghormati Allah, karena Kitab Suci telah keluar dari Dia saja, dan tidak ada pikiran manusia apapun yang tercampur di dalamnya...

(dari buku David Hall & Peter Lillback, "Penuntun Ke Dalam Theologi Institutes Calvin" [Surabaya: Momentum])

John Calvin: Alkitab dan Kesaksian Roh

Kesaksian Roh lebih baik dari pada semau akal. Karena sebagaimana Allah saja adalah seorang saksi yang tepat akan diri-Nya dalam firman-Nya, maka juga Firman tidak akan diterima dalam hati manusia sebelum firman itu dimeteraikan oleh kesaksian Roh Kudus di dalam hati manusia. Karena itu Roh yang sama yang telah berbicara melalui mulut para nabi harus menembus ke dalam hati kita untuk memengaruhi kita sehingga mereka dengan setia memberitakan apa yang secara ilahi telah diperintahkan. [Institutes 1.7.4]

Maka, kesaksian Roh adalah suatu keyakinan yang melampaui akal; kesaksian Roh merupakan suatu pengetahuan di mana akal yang terbaik tidak dapat menyangkal - di dalamnya pikiran bersandar dengan lebih aman dan tenang melampaui akal apapun; terakhir, kesaksian Roh adalah seperti suatu perasaan yang dapat dilahirkan hanya oleh pernyataan sorgawi. Saya sedang berbicara tentang apa yang dialami oleh setiap orang percaya dalam dirinya - meskipun perkataan saya jauh dari suatu penjelasan yang pantas akan hal itu. [Institutes 1.7.5]

(dari buku David Hall & Peter Lillback, "Penuntun Ke Dalam Theologi Institutes Calvin" [Surabaya: Momentum])

Jumat, 31 Oktober 2014

Cornelius Van Til: Antitesis Dalam Pendidikan (2)

Orang non Kristen percaya apapun yang diketahui manusia, diketahuinya di luar Allah. Pikiran manusia bukan seperti lampu listrik yang memerlukan arus listrik untuk bercahaya tetapi seperti lampu minyak yang mempunyai energinya sendiri. Orang Kristen percaya segala sesuatu gelap jika wahyu Allah tidak bersinar. Kita tidak dapat melihat fakta apapun tanpa terang ini. Dengan demikian, guru-guru non-Kristen kadang-kadang menganggap dirinya memiliki dan mengetahui "fakta" sehingga mereka dapat mengajarkannya, tetapi kemudian ketika melihat bahwa "fakta" itu sebenarnya berada dalam kegelapan, mereka akan menyerah dalam keputusasaan. Sebaliknya guru-guru Kristen menyadari tidak ada satu "fakta" pun yang dapat sungguh-sungguh diketahui dan kemudian diajarkan jika tidak ditempatkan di bawah terang Wahyu Allah. Bahkan hukum-hukum aritmetika pun tidak dapat diketahui dengan cara lain.

Kita perlu lebih memahami perbedaan-perbedaan dasar ini. Karena jika tidak, kita tidak akan pernah memiliki sekolah Kristen yang sesungguhnya. Memahami perbedaan-perbedaan ini tidak berarti kita harus lebih banyak mengajar agama secara langsung dibandingkan mata pelajaran lain. Jika kita mengajarkan agama secara tidak langsung di berbagai tempat dan kesempatan, mungkin kita justru memerlukan lebih sedikit waktu untuk mengajar agama secara langsung. Memahami perbedaan ini berarti rencana kurikulum harus berpusat pada Allah. Manusia ada untuk Allah. Tetapi segala sesuatu di alam semesta ciptaan ini ada untuk manusia. Dari perspektif ini, kurikulum harus [berorientasi pada orang - terjemahan Antonius]. Karena hanya dengan demikian, kurikulum dapat berpusat pada Allah.

Orang non-Kristen percaya bahwa kepribadian anak dapat berkembang paling baik jika tidak ditempatkan berhadapan dengan Allah. Orang Kristen percaya kepribadian anak tidak dapat berkembang sama sekali jika tidak ditempatkan berhadapan dengan Allah. Pendidikan non-Kristen menempatkan anak dalam kekosongan. Dalam kekosongan, si anak diharapkan bertumbuh. Akibatnya anak itu mati. Hanya pendidikan Kristen yang sungguh-sungguh memupuk kepribadian anak karena hanya pendidikan Kristenyang memberikan si anak udara dan makanan.

Orang non-Kristen percaya bahwa otoritas merusak pertumbuhan anak. Orang Kristen percaya bahwa tanpa otoritas, anak sama sekali tidak dapat hidup. Orang non-Kristen mengakui otoritas "ahli" tetapi itu bukan otoritas yang sebenarnya.Orang Kristen menginginkan otoritas yang didasarkan pada pemikiran bahwa Allah adalah Pencipta manusia dan Kristus adalah Penebus manusia.

Kita telah melihat bahwa antitesis menyentuh setiap fase dalam pendidikan. Berusaha untuk menjalankan ide antitesis di satu hal dan menolaknya di hal lain sama saja dengan membuang tenaga dan uang Anda. Kita tidak dapat melakukannya.

(dari buku "Dasar Pendidikan Kristen" [Surabaya: Momentum])

Cornelius Van Til: Antitesis Dalam Pendidikan (1)

Prinsip hidup orang percaya berlawanan total dengan prinsip hidup orang tidak percaya. Hal ini terjadi dalam dunia pendidikan sama seperti dalam gereja. Berdasarkan hal ini, kita akan membahas antitesis dalam pendidikan. Antitesis ini terjadi di seluruh bidang pendidikan. Antitesis ini mula-mula terjadi pada filsafat pendidikan; sangat penting tetapi sering tidak diperhatikan. Kedua, antitesis muncul dalam aspek materi yang disampaikan yakni kurikulum. Terakhir, antitesis muncul ketika kita memikirkan sang anak atau anak muda yang akan dididik. Dalam tiga aspek inilah kita akan membahas antitesis dalam filsafat pendidikan.

Orang non-Kristen percaya bahwa alam semesta menciptakan allah. Mereka memiliki allah yang terbatas. Orang Kristen percaya bahwa Allah menciptakan alam semesta. Mereka memiliki alam semesta yang terbatas. Oleh karena itu, orang non Kristen tidak berpikir untuk membawa seorang anak berhadapan langsung dengan Allah. Mereka ingin membawa anak tersebut berhadapan langsung dengan dunia. Pendidikan non-Kristen merupakan pendidikan tanpa Allah (Godless education). Apa yang paling penting bagi kita dalam pendidikan, yang mutlak tidak boleh diabaikan, justru mereka tinggalkan sama sekali.

Pendidikan tanpa Allah mengabaikan atau menolak bahwa manusia diciptakan untuk bertanggung jawab kepada Allah. Hal ini mengimplikasikan bahwa dosa bukanlah pelanggaran terhadap hukum Allah. Karenanya Kristus tidak perlu mati menggantikan kita. Oleh karena itu, pendidikan tanpa Tuhan atau non-teistik juga merupakan pendidikan non-Kristen atau anti-Kristen. Tentu saja pendidikan non-Kristen yang tanpa Allah akan menjadi humanistik, yakni berpusat pada manusia. Jika manusia tidak harus hidup bagi Allah, dia dapat hidup untuk dirinya sendiri. Jika kita menginginkan suatu pendidikan yang berpusat pada Allah dan yang benar-benar Kristen, kita harus mendobrak seluruh filsafat pendidikan yang ada di sekitar kita.

Orang non-Kristen percaya bahwa manusia dikelilingi oleh dunia yang benar-benar tidak dapat diketahui. Manusia meraba-raba dalam kegelapan, hanya dengan sebuah cahaya kecil yaitu akalnya sendiri yang memancar sebagai reflektor dalam kabut. Orang Kristen percaya bahwa pada mulanya manusia hidup dalam terang wahyu Allah. Dan di dalam Kristus sebagai wahyu yang sejati dan di dalam Alkitab sebagai wahyu yang tertulis, secara prinsip manusia dipulihkan kepada cahaya Allah yang sejati.

Pendidikan non-Kristen mula-mula berpacu menurut pikirannya, dan berdelusi bahwa ia telah berhasil menembus kegelapan, atau berhenti sama sekali dalam keputusasaan. Seringkali para pendidik non-Kristen benar-benar membuang ide tentang tujuan pendidikan yang pasti. Mereka berbicara mengenai "penyesuaian diri fungsional" pada lingkungannya. Tetapi jika seorang pengemudi tidak tahu jalan dan mengemudi di tengah kabut, mengapa ia harus tancap gas? Sebagai orang Kristen, kita tahu apa tujuan pendidikan. Kita juga tahu apa yang seharusnya menjadi isi pendidikan. Akhirnya, kita tahu bahwa metode yang benar-benar Kristen harus digunakan untuk mengajarkan isi pendidikan yang benar-benar Kristen.

bersambung...

(dari buku "Dasar Pendidikan Kristen" [Surabaya: Momentum])

Kamis, 30 Oktober 2014

Ayat-Ayat: Sungguh Mengasihi Orang Lain

2 Korintus 2:8:

(ASV)  Wherefore I beseech you to confirm your love toward him.

(ESV)  So I beg you to reaffirm your love for him.

(IBIS)  Sebab itu saya minta, supaya kalian menunjukkan kembali kepadanya bahwa kalian benar-benar mengasihinya.

(ITB)  Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia.

(KJV)  Wherefore I beseech you that ye would confirm your love toward him.


Ayat-Ayat: Tidak Mengasihi Tuhan, Terkutuk

1 Korintus 16:22:

(ASV)  If any man loveth not the Lord, let him be anathema. Maranatha.

(ESV)  If anyone has no love for the Lord, let him be accursed. Our Lord, come!

(IBIS)  Orang yang tidak mengasihi Tuhan, biarlah ia terkutuk! Maranatha--Tuhan kami, datanglah!

(ITB)  Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranata!

(KJV)  If any man love not the Lord Jesus Christ, let him be Anathema Maranatha.


Rabu, 29 Oktober 2014

Kalimat Penting: Oswald Sanders: Penganiayaan & Loyalitas

"Penganiayaan [yang dialami orang percaya] haruslah demi Kristus - penderitaan yang timbul karena loyalitas konsisten kita kepada-Nya".

(dari buku "Kemuridan Rohani" [Batam: Gospel Press])